#bijakfputranto

@bijakfputranto

Implementasi Remora Method: Coffee Shop+Hackerspace

with 4 comments

Beberapa hari yang lalu, entah dari mana mulanya, Saya mendarat di situs PassivePanda.com yang kemudian menggiring Saya ke RemoraMethod.com. Kebetulan pemilik dari kedua situs ini adalah orang yang sama: James Clear.

Jadi Remora Method adalah sebuah metode yang dikembangkan oleh James Clear dengan melihat simbiosis mutualisme antara ikan Remora dan Hiu. Ikan remora berlindung di bawah badan hiu dan mendapat makanan dari sisa-sisa makanan hiu. Sementara hiu mendapat keuntungan karena bakterinya ikut dibersihkan oleh ikan Remora. Inti yang Saya tangkap dari sedikit review dan free-first-lesson adalah: mulailah membentuk simbiosis mutualisme antara Anda dengan orang (atau organisasi) yang bisa mendukung Anda dan sebaliknya, keberadaan Anda bisa memberikan dampak positif pada orang (atau organisasi) tersebut. Kalau bisa berkolaborasi, kenapa harus sendiri?

Berangkat dari pemikiran ini, tercetus ide untuk mengembangkan bisnis yang sudah dari lama ingin Saya rintis.

Saya adalah orang yang sangat percaya dan mengimani dengan sepenuh hati terhadap SEMANGAT KOLABORASI. Pada suatu saat nanti, Saya harus bisa membuat sebuah “hackerspace”. Sebenarnya Saya sudah pernah mencoba merintisnya dengan mendirikan sebuah kedai kopi yang mengusung konsep ini. Namun realisasinya tidak semudah yang dibayangkan. Mengelola kedai kopi dan hackerspace secara paralel ternyata SANGAT SUSAH. Kedai kopi lebih banyak mengelola menu makanan dan minuman. Hackerspace lebih banyak mengelola infrastruktur dan komunitas di dalamnya.

Nah, terkait dengan Remora Method, Saya terpikir untuk menggabungkan kedai kopi dan hackerspace ini dengan cara: mengajak berkolaborasi pebisnis kedai kopi di Bandung. Mereka menyediakan tempat dan menu, Saya menyediakan “infrastruktur” hackerspace yang dibutuhkan: internet, meja kerja, perangkat kelas dan komunitas di dalamnya. Dengan begini, Saya tidak perlu pusing mengurusi dua hal, cukup fokus di hackerspace-nya saja. Saya adalah “ikan remora”, dan pemilik kedai kopi adalah “ikan hiu”nya.

Lebih jauh, kriteria kedai kopi yang dipilih sebagai “indung” si hackerspace ini sebaiknya memenuhi kriteria berikut:

  • berada di tengah kota Bandung, yang mudah diakses baik oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Tapi tidak berada di dalam mal! Memiliki tempat parkir yang memadai dan aman.
  • memiliki meja+kursi tinggi (yang biasa digunakan untuk bekerja menggunakan laptop) alias bukan sofa.
  • memiliki kecepatan jaringan internet yang baik dan stabil. Tidak lupa colokan kabel yang mencukupi.
  • memiliki ruangan yang bebas dari asap rokok. Well, kebanyakan kedai kopi di Bandung meskipun ber-AC tapi tetap mengijinkan pengunjungnya untuk merokok. Bodoh!
  • Memiliki sudut ruang yang bisa digunakan untuk mini-seminar, bisa untuk meletakkan layar (atau TV layar lebar) dan whiteboard. Hackerspace akan lebih hidup jika rutin diisi kelas-kelas kecil dengan materi yang berguna.
  • Sebaiknya buka 24 jam karena jam kerja hackerspace-ers tidak tentu. Setahu Saya cuma Bober Cafe & Paris Van Java Coffee yang 24 jam, tapi sebaiknya tidak di dua tempat itu karena mereka tidak memenuhi syarat ke-4 😦
  • Dimiliki oleh orang yang juga mendukung semangat KOLABORASI!

Di bawah ini Saya me-list beberapa kedai kopi di Bandung yang cukup potensial untuk diajak berkolaborasi membentuk hackerspace temporer. Beberapa tempat pernah Saya kunjungi, sebagian lainnya belum. Silakan ditambahkan jika terpikirkan, atau mungkin punya ide lain yang lebih layak untuk diimplementasikan.

  1. Kopi Kamu, Jl. Taman Sari
  2. Rocca & Co, Jl. Progo
  3. Giggle Box, Jl. Progo
  4. Tablelicious, dekat Cilaki.
  5. Vanilla, Jl. Cimanuk
  6. Clio Cafe, Jl. WR Supratman
  7. Kedai Kopi Mata Angin
  8. Ngopi Doeloe
  9. ….

Hackerspace sebenarnya sudah ada di Bandung dan ada juga hackerspace-like di Jakarta. Apa belum cukup? Kalau bisa banyak tempat kolaborasi, kenapa harus satu? Saya sendiri sebenarnya belum berpengalaman untuk mengelola hackerspace, namun Saya memiliki semangat belajar untuk itu. Ditunggu sekali masukan (dan hinaan) di bagian komentar, atau mungkin ingin japri bisa ke bijakfputranto@gmail.com. Ditunggu ya…. πŸ™‚

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

February 20, 2013 at 11:01 pm

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Obrolan lama ini ya? Moga cpt terwujud..

    Shiddieq

    February 21, 2013 at 12:03 am

  2. Kalau dari saya juga sebenarnya visi Hackerspace ke depan itu memang menggabungkan konsep cafe dan coworking space. Tapi cafe memang yang terjangkau dan tempatnya cocok untuk kerja. Selama ini anak2 HackerspaceBDG seringnya ke Potluck karena tempat dan suasananya mendukung untuk kerja. Harga lumayan cukuplah walaupun kalau tiap hari juga bisa tekor :).

    Permasalahan memang modal sih, karena HackerspaceBDG saat ini dibiayai mandiri oleh teman-teman. Dan dari pengalaman saya dan teman-teman memang orang-orang di Hackerspace lah yang bisa menarik orang luar untuk ikut gabung. Selama mereka melihat orang-orang didalamnya itu terbuka, dan ada potensi yang mereka bisa dapat dari orang-orang itu kemungkinan besar mereka akan bergabung.

    Yohan

    February 21, 2013 at 9:41 am

  3. wah keren banget kak idenya…
    mungkin sekalian dibuat hackaton dalam skala kecil di tempat2 kayak gitu kak..

    angga

    February 21, 2013 at 6:32 pm

  4. […] tindak lanjut dari tulisan yang Saya buat tadi malam tentang implementasi Remora Method, hari ini Saya coba mulai untuk menjajaki kemungkinan kedai kopi […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: