#bijakfputranto

@bijakfputranto

Sudah benarkah Zakat kita?

leave a comment »

Menjelang Idul Fitri, gaung ajakan berzakat, khususnya zakat fitrah, santer dimana-mana. Namun terkait zakat harta atau zakat penghasilan, ada yang masih Saya bingungkan.
Kita sudah tahu, besaran zakat harta adalah 2,5%. Pertanyaannya, dari dalil yang mana muncul besaran 2,5% tersebut?
Sepanjang yang Saya tahu, dalil tentang zakat maal kurang lebih isinya “dari setiap 20 DINAR yang dipunya selama SETAHUN (qamariyah), maka keluarkan 0,5 DINAR. dan dari setiap 200 DIRHAM yang dipunya selama SETAHUN (qamariyah), maka keluarkan 5 DIRHAM.” Apa karena 0,5/20 dan 5/200 besarnya 0,025 maka lantas disimpulkan bahwa besaran zakat harta/penghasilan adalah 2,5%?
Well, Saya masih harus banyak belajar tentang ini sepertinya. Tapi berdasarkan pemahaman Saya yang sedikit ini, agak janggal juga peng-konversi-an zakat dari mata uang DINAR/DIRHAM ini ke RUPIAH. Belum lagi tentang nishab yang harus tercapai selama SETAHUN. Apa kemudian bisa dengan mudahnya membagi besaran setahun ke dalam 12 bulan, sebagaimana yang kita temukan selama ini: zakat penghasilan 2,5% per bulan?
Begini, misalkan kita menyimpan 20 DINAR atau 200 DIRHAM dari tanggal 1 Syawal 1432H. Kemudian pada tanggal 29 Ramadhan 1433H, ada keperluan yang membuat kita harus mengurangi harta kita menjadi 19 DINAR/199 DIRHAM. Karena belum setahun, maka kita TIDAK WAJIB zakat maal. Betul? Jadi, bagaimana bisa disimpulkan zakat penghasilan per bulan 2,5%, padahal belum tentu harta kita selama setahun nantinya mencapai nishab.
Kemudian dari segi mata uang. Misal nilai tukar hari ini, 1DINAR=Rp 2.176.000 dan 1DIRHAM=Rp 66.500 (sumber: wakalanusantara.com). Maka 20 DINAR=Rp 43.520.000 dan 200 DIRHAM=Rp 13.300.000. Jika semisal kita menyimpan Rp 43.520.000 dan Rp 13.300.000 selama setahun(tidak dipakai sama sekali), maka setahun kemudian apakah nilai Rp 43.520.000 sama dengan 20 DINAR dan Rp 13.300.000 sama dengan 200 DIRHAM? Berdasarkan data, kenaikan nilai DINAR terhadap RUPIAH rata-rata 20% per tahun. Artinya nilai Rupiah yang kita simpan selama setahun sudah kurang dari 20 DINAR dan 200 DIRHAM. Nishab tak terpenuhi, maka tak wajib zakat?
Mungkin ada yang berkomentar, tak usahlah pusingkan nilai harta sudah sampai nishab atau tidak, yang penting memberi dan berbagi. Saya sepakat untuk kita ringan memberi & berbagi tanpa pusing menghitung berapa harta kita, tapi kalau begini, mungkin jatuhnya ke infaq/shadaqah, bukan zakat.
Esensi dari tulisan Saya ini adalah, kalau memang DINAR dan DIRHAM adalah mata uang sejati (biasa disebut heaven’s currency), kenapa kita tidak kembali kepadanya? Memang butuh proses, tak serta merta menggantikan Rupiah dalam semalam. Tapi kenapa tidak dimulai?
Teman-teman yang bergelut di bidang ZIS, pls bantu Saya menemukan jawaban atas kebingungan Saya ini.

@bijakfputranto

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

August 14, 2012 at 8:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: