#bijakfputranto

@bijakfputranto

7 Tanda Kegagalan Internet Startup

with 3 comments

Bjoern Lasse Herrmann, co-founder Blackbox-venture capital- dan inisiator proyek riset Startup Genome merilis 7 tanda-tanda kegagalan sebuah internet startup. Berikut ulasannya:

1. Tidak bekerja Full-Time

Jika sudah memutuskan memulai sebuah startup, jangan melakukannya setengah hati. Menciptakan suatu hal baru tidaklah mudah. Keberhasilan hampir selalu membutuhkan totalitas. Kerja sambilan boleh-boleh saja, namun hal ini mengekang kinerja dan potensi.

Sering kita dengar orang berkata akan bekerja paruh waktu hingga mulai menghasilkan uang. Disini dapat dilihat bahwa orang-orang yang bekerja paruh waktu bisa menghasilkan uang, tapi 24x lebih sedikit daripada founder yang bekerja penuh waktu. Mereka juga memiliki masalah membangun intensitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah pengguna yang dibutuhkan untuk memvalidasi ketertarikan pada produk. Bekerja penuh waktu sangat kritikal untuk startup dengan produk yang membutuhkan jumlah pengguna yang banyak.

2. Solo Founder atau 4+ Founders?

Jika sudah berkomitmen bekerja penuh waktu, tantangan besar pertama adalah meyakinkan orang lain untuk bergabung dan berkomitmen penuh menjalankan perusahaan. Jika tidak bisa meyakinkan sedikitnya satu orang untuk bergabung, atau percaya mampu untuk melakukan semuanya sendiri, hal ini merupakan pertanda kuat bahwa perusahaan tampaknya tidak akan berhasil. Bagaimanapun, memiliki terlalu banyak orang untuk bergabung ke dalam founding team ternyata tidak terlalu bagus juga. Jumlah anggota founding team yang tepat adalah dua atau tiga orang. Solo founder menghasilkan kurang dari 50% dari yang dihasilkan 2-3 founder. Satu alasan untuk ini adalah selama pengumpulan dana, solo founder dipaksa untuk membagi waktu dan perhatian mereka antara produk, bisnis, dan pengumpulan dana. Solo founder memiliki 290% lebih sedikit pertumbuhan pengguna dan 16% lebih mungkin untuk menjadi prematur dibandingkan 2-3 founder. Lebih dari 42% startup yang berjalan, lebih dari 20% lebih lambat daripada waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mencapai “scale stage” adalah solo founder.

3. Tidak memiliki ‘technical co-founder

Jika memulai perusahaan teknologi dan tidak ada seorang teknis pun di perusahaan, tampaknya tidak akan berhasil. Kecuali jika perusahaan benar-benar ‘sales-intensive market‘, founding team seharusnya 1/3 teknikal, meskipun idealnya 50%. Bagaimanapun, terlalu banyak koki di dalam dapur tidak bagus juga.

Masalah pertama jika tidak memiliki orang teknis di dalam founding team adalah tidak memiliki seorangpun yang memiliki kepemilikan penuh terhadap produk. Business founder tidak mempunyai produk karena mereka tidak mengerti kode pemrograman, dan pegawai atau konsultan tidak mempunyai produk karena perusahaan bukan milik mereka. Hasilnya, perusahaan tanpa technical co-founder kemungkinan jatuh hampir dua kali lebih cepat. Mereka juga memiliki 3-5 kali lebih sedikit pertumbuhan pengguna dan membutuhkan 7-8 bulan lebih lama untuk meraih ‘scaling stage‘.

4. Komposisi Founding Team yang salah untuk tipe startup yang salah

Sekali sudah membentuk tim, yakinkan untuk mendapatkan pasar dan membangun produk yang cocok dengan kemampuan founding team. Ada tiga tipe Internet startup dengan bermacam subtipe. Mereka disegmentasi berdasarkan bagaimana melakukan pengembangan customer dan akuisisi customer. Masing-masing tipe berbeda waktu, kemampuan, dan kebutuhan dananya.

  • The Automizer (akuisisi pelanggan secara self-service, fokus kepada konsumer, product centric, eksekusi cepat, sering otomasi proses manual)
  • The Social Transformer (akuisisi pelanggan secara self-service, critical mass, pertumbuhan pengguna cepat, pemenang menguasai seluruh pasar, efek jaringan, menghasilkan cara baru berinteraksi)
  • The Integrator (tingkat kepastian yang tinggi, product-centric, monetisasi dini, fokus pada UKM, pasar lebih kecil, sering mengambil inovasi dari Internet dan membangun kembali untuk perusahaan yang lebih kecil)
  • The Challenger (penjualan secara enterprise, ketegantungan customer tinggi, pasar yang kompleks dan kaku, proses penjualan yang berulang)

5. Tidak pivot sama sekali atau Pivot terlalu sering

Jika sudah menemukan founding team, produk, dan pasar yang cocok dengan kekuatan tim, tantangan besar selanjutnya adalah membulatkan tekad untuk membuat visi menjadi kenyataan sementara harus fleksibel dalam pencapaiannya. Kesempatan yang dibutuhkan untuk memodifikasi beberapa aspek bisnis penting sangatlah besar. Ketika umpan balik menunjukkan ada yang salah, maka dibutuhkan suatu adaptasi. Bagaimanapun, mengubah bisnis terlalu sering akan membuat kita berputar-putar dalam lingkaran. Founder yang pivot 1-2 kali memiliki 100% lebih banyak pertumbuhan pengguna dan 48% lebih sedikit kemungkinan scale secara prematur.

6. Tidak mendengarkan customer

Pivoting hampir selalu keputusan yang dibuat dengan informasi yang kurang lengkap dan dibawah kondisi yang tidak tentu. Namun menyediakan waktu untuk mengumpulkan umpan balik dengan berinteraksi dengan customer secara signifikan meningkatkan keganjilan dalam membuat keputusan yang baik. Startup yang meninjau kembali matriks dan mendengarkan customer memiliki 400% lebih banyak pertumbuhan pengguna.

7. Scale tanpa memvalidasi pasar

Terakhir, satu kesalahan kritis adalah founder terlalu cemas membuat kemajuan dan scale perusahaan mereka secara prematur, sebelum memvalidasi pasar dan mengefektifkan proses akuisisi customer. Jika telah menghasilkan banyak uang atau memiliki banyak kepastian, hasilnya adalah mati perlahan. Jika memiliki keduanya, maka kematian cepat adalah mungkin.

Startup yang scale setelah memvalidasi pasar menghasilkan 3,2x lebih banyak uang, dan memiliki 1,5x lebih besar pertumbuhan pengguna. Yang menarik, startup yang scale secara prematur telah bekerja sama lamanya dengan startup yang scale secara tepat.

artikel disadur dari Venture Beat|di artikel asli tercantum grafik hasil riset


Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

June 1, 2011 at 4:35 pm

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah, nice post kak,
    banyakin share tentang startup ya :mrgreen:

    Ariff

    June 1, 2011 at 10:10 pm

  2. Nice artikel kak,
    *banyak belajar

    arifqodari

    February 4, 2012 at 9:01 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: