#bijakfputranto

@bijakfputranto

Hidup Itu Memilih

with 3 comments

Tadi malam (akhirnya) Saya (dan istri) sempat juga nonton film “?”. Judul film yang aneh, karena sang sutradara-Hanung Bramantyo-mengaku masih belum menemukan judul yang pas, dan membiarkan penonton menentukan judulnya sendiri. Meskipun di loket pembelian tiket, tercantum judul “Tanda Tanya”, HB tetap menentukan tagline untuk film ini: “Masih Pentingkah Kita berbeda”.
Sejujurnya Kami penasaran dengan film ini, karena (seperti biasa) HB selalu menggunakan tema kontroversi dalam filmnya sebagai strategi pemasaran, setelah sebelumnya dengan film “Perempuan Berkalung Sorban” yang banyak menuai kontroversi. Namun yang juga menarik adalah film “?” dipenuhi sejumlah nama bintang yang sudah terjamin kualitasnya di perfilman Indonesia, sebut saja Reza Rahadian, Agus Kuncoro, dan Revalina S. Temat.
Mengenai isi filmnya sendiri, Saya pribadi memiliki banyak ketidaksetujuan dengan materi yang dibawakan, terlebih jika menyinggung masalah aqidah. Namun kalau Saya bahas di sini, maka tidak ubahnya Saya seperti komentator yang lain, yang menyuarakan pendapatnya lalu merangsang rasa penasaran orang lain, sehingga akhirnya menonton. Sungguh ketika itu terjadi, HB-lah yang akan terbahak merasakan kemenangan strateginya.
Namun intisari dari film yang Saya tangkap di akhir cerita adalah tentang memilih dalam hidup dan untuk berkomitmen pada pilihan yang telah kita ambil. Hidup itu sendiri adalah pilihan. Dilematis. Kita tak mungkin tidak memilih, atau memilih semua pilihan. Bahkan ketika dalam suatu kondisi kita tidak memilih, justru itulah pilihan kita. Tak terkecuali jika pilihan-pilihan itu terkait aqidah dan kepercayaan, maka kitapun akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita. Taruhlah kita sudah memiliki agama turunan dari orang tua dan moyang kita, namun ketika sudah lengkap akal sebagai tanda dewasa, maka selayaknyalah kita mempertanyakan apakah memang sesuai dengan yang kita yakini. Sungguh, kebenaran selamanya tak akan pernah tertukar dengan kebathilan. Bahkan untuk tercampur keduanya menjadi satu, adalah suatu yang mustahil.
Maka, pilihlah jalanmu, susuri ia sampai kau sampai di tempat yang telah kau visikan sebelumnya. Perbanyak ilmu, sebagai peta penunjuk arah dalam perjalananmu. Jika tak sampai juga, atau kau rasa salah jalan, maka jangan pernah merasa sombong untuk mengaku salah dan berputar arah. Sesungguhnya sombong itu adalah menolak kebenaran, sementara kau sendiri yakin atas kebenaran tersebut. Selamat memilih!

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

April 28, 2011 at 6:54 am

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Salam kenal.

    savitri

    May 5, 2011 at 9:17 pm

  2. belum pernha menontonnya nih!!!

    nur

    July 27, 2013 at 9:22 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: