#bijakfputranto

@bijakfputranto

Sekitaran

leave a comment »

Sudah cukup lama tidak ‘mobile blogging’ di KRL. Seingat Saya, terakhir dua pekan yang lalu sewaktu bahasan tentang selingkuh. Kali ini Saya mau sedikit cerita tentang tiga orang spesial, setidaknya yang saya temukan di lingkungan rumah Saya saat ini-sekitaran Villa Pertiwi, Depok. Oiya, rumah tempat tinggal Saya sekarang adalah rumah kontrakan, yang sangat dekat dengan rumah mertua. Dulu, sewaktu rumah mertua sedang direnovasi, mereka sekeluarga pernah ngontrak di rumah yang Saya tinggali sekarang.
Orang pertama adalah seorang kakek yang mungkin usianya di atas 80 tahun. Berkacamata. Rambut beruban total. Gigi ompong. Kurus. Uniknya, si kakek yang belum Saya ketahui namanya ini, selalu duduk di teras rumahnya pada malam hari. Ya, setidaknya setiap perjalanan Saya ke masjid pasti melewati rumah beliau. Biasanya beliau mulai mengatur tempat duduknya-dari kursi plastik- sewaktu Saya pulang shalat maghrib. Ketika isya pun, beliau masih di situ. Sepulang shalat isya, begitu juga. Kadang kami bertemu mata, saling bersapa. Tapi lebih sering, beliau duduk menunduk, seperti seseorang yang sedih dan menanggung beban berat dalam hidupnya.
Orang kedua, bernama Japra, yang sekaligus juga menjadi merek dari siomay dagangannya:”Siomay Japra”. Konon, dia sudah berjualan semenjak istri Saya masih kecil. Tak salah lagi, inilah tukang siomay langganan keluarga istri Saya. Kalau dihitung-hitung, sudah lebih 20 tahun bang Japra ini berjualan siomay di sekitaran Villa Pertiwi. Bayangkan, betapa istiqomahnya dia menjalani profesi (atau karir?) sebagai tukang siomay di tempat yang sama. Pernah Saya dan istri berdiskusi, koq bisa ya bang Japri sekonsisten itu. Dalam pikiran kami, kenapa tidak mulai mendirikan warung siomay saja? Sampai berapa tahun lagi bang Japra sanggup mengayuh sepedanya demi menjemput rizki yang Allah sediakan?
Dan yang terakhir-yang tak terlalu banyak cerita tentangnya- adalah seorang ibu penjual pecel yang selalu mengajak anaknya untuk menjajakan dagangan di malam hari. Kata isu yang Saya dengar sih, pecel buatan si ibu ini enak banget. Tapi sayangnya setiap dia lewat di depan rumah Saya, sudah terlalu malam-diatas jam 9 malam-sehingga Saya sudah kehilangan selera untuk kembali mengisi perut. Yang menjadi pertanyaanku, di manakah suaminya? Sampai seorang wanita harus berkeliaran di malam hari demi menopang hidup ia dan anaknya. Prasangka baikku, sang suami ada dan sedang menjemput rizki di tempat lain.
Merenungi hidup dengan merefleksi kepada tiga orang tersebut, membuat Saya kembali mendapatkan rasa syukur yang seringkali hilang dihapus gemerlapnya kehidupan ibu kota yang penuh dengan gelimang materi. Syukur Saya karena tidak duduk sendiri ketika malam hari, karena ada istri yang menemani. Syukur Saya karena tak perlu gowes sepeda di malam hari atau menapaki jalan-jalan sepi demi sesuap nasi. Alhamdulillahirabbil’alamiin….

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

April 8, 2011 at 6:05 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: