#bijakfputranto

@bijakfputranto

Tentang Selingkuh

with 5 comments

Tadi malam, selepas shalat isya, Saya dan istri bersantai sembari berbincang santai. Memang sudah menjadi rutinitas, di malam hari kami berbagi cerita apa saja yang telah kami lakukan seharian. Yang tidak biasa, topiknya belum pernah kami perbincangkan sebelumnya, setidaknya dalam konteks yang lumayan serius: selingkuh.
Bermula dari istri Saya yang cerita tentang kegiatan liqo-nya (ngaji rutin tiap pekan). Di pertemuan itu, murabbi (guru ngaji)nya cerita tentang kisah pada zaman Rasulullah, ada seorang shahabat yang punya istri yang tidak pernah berhenti menggenggam tangan lelaki lain yang bukan muhrimnya. Maka Rasul pun menyuruh shahabat tersebut untuk menceraikan istrinya. Namun karna masih mencintai istrinya, shahabat menolak. Maka Rasul berpesan agar shahabat tersebut membimbing dan mengajari istrinya.
Pembahasan kisah shahabat tersebut kemudian berkembang pada isu-isu terkini, banyak ternyata aktivis da’wah yang juga berselingkuh. Bahkan ada, seorang istri aktivis da’wah yang akhirnya melepas jilbabnya sebagai bentuk kekesalan dan protes kepada Allah dan suaminya. Belum lagi kisah-kisah perceraian di rumah tangga aktivis da’wah.
Dari diskusi itu, kami menyadari bahwa lingkungan kerja dan aktivitas di luar rumah memang rentan sekali membuka celah perselingkuhan, khususnya bagi suami. Tak ada pengecualian bagi aktivis da’wah yang menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan untuk ummat. Karena aktivis da’wah juga manusia.
Selingkuh pada dasarnya adalah bentuk pengalihan kejenuhan, dengan sesuatu yang baru dan lebih menarik. Hal ini sangat wajar bagi seorang manusia. Jika misalkan di rumah seorang suami tidak mendapatkan kepuasan bathin bersama istri, maka ia akan mencari penyaluran di luar rumah. Wanita-wanita di sekitar lingkungan kerjanyalah yang akhirnya menjadi pelampiasan. Belum lagi gangguan media yang memprovokasi, bahwa selingkuh itu biasa.
Saya dan istripun akhirnya menyadari, bahwa dalam hidup berumah tangga, setidaknya sekali seorang suami atau istri pernah melakukan selingkuh. Selingkuh pada tingkat paling rendah adalah yang berada pada hati dan pikiran. Dan ini, menurut Saya sangat wajar, karena pada fitrahnya manusia itu tidak pernah puas, dan selalu mencari yang lebih sempurna-meskipun tak akan pernah menemukannya-.
Solusinya? Coba kembalikan pikiran melayang jauh ke belakang. Ketika kita (para suami) mengucapkan perjanjian yang berat (mitsaqan ghaliza). Dan juga kalian, para istri, berkomitmen untuk mengabdi pada suami. Perbaharui terus komitmen itu. Ingat proses yang telah dijalani bersama. Setelah itu, terbangkan pikiran sangat jauh ke depan. Apa yang akan kita pertanggungjawabkan di pengadilan akhirat? Akan berakhir seperti apa kita? Suami/istri yang diridhai Allah karena kesabaran dan kesyukuran untuk selalu setia pada pasangan, atau suami/istri yang dilaknat Allah karena mengkufuri nikmat dengan berselingkuh?
Semangat memperbaharui komitmen!

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

March 24, 2011 at 7:54 am

Posted in Daily

Tagged with , ,

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. ane belum punya istri akh…:)

    Aldo Al Fakhr

    April 7, 2011 at 5:52 am

  2. […] ‘mobile blogging’ di KRL. Seingat Saya, terakhir dua pekan yang lalu sewaktu bahasan tentang selingkuh. Kali ini Saya mau sedikit cerita tentang tiga orang spesial, setidaknya yang saya temukan di […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: