#bijakfputranto

@bijakfputranto

Untuk Para Calon Ayah

leave a comment »

fatherPagi ini, hapeku berdering sesaat setelah aku menyelesaikan tugas mengajarku. Ternyata dari Pak Tjahyono Jatmiko, yang tidak lain adalah rekan sesama dosen di IMT yang juga mengajar mata kuliah Business Management. Singkat cerita, beliau minta digantikan untuk mengajar kelas beliau keesokan harinya (Jum’at), karena beliau harus pulang ke Depok menjenguk anaknya yang sedang sakit demam berdarah.

FYI, pak Tjahyono adalah seorang pensiunan Telkom yang juga baru setahun (diminta) mengajar di IMT. Rumah beliau sendiri sebenarnya di Depok. Jadi setiap pekan, ia harus bolak-balik Bandung-Depok.

Aku tidak mungkin lupa kalau hari Jum’at adalah jadwal kuliah Business Ethics, mata kuliah yang termasuk favoritku karena bahasannya yang menarik. Tetapi akupun berat untuk menolak permintaan Pak Tjahyono. Bisa dibilang, saat ini akulah satu-satunya harapan, karena dosen lainnyapun berhalangan. Di IMT, sistem mengajarnya memang dibuat supaya kelas jangan sampai diliburkan hanya karena dosen berhalangan. Jika memang benar-benar terpaksa, akan coba dibantu dicarikan dosen penggantinya. Hal ini juga karena mempertimbangkan ketersediaan kelas yang terbatas, sementara jumlah mahasiswanya semakin bertambah setiap tahunnya.

Aku mencoba untuk berpikir dan merenungkannya. Di satu sisi, aku akan merasa rugi kehilangan waktu kuliahku. Belum lagi masalah uang kuliah yang sudah kubayar. Dari sisi ini aku merasa kehilangan secara materi. Namun di sisi yang lain, ada aspek kemanusiaan yang menggodaku. Tidak semuanya bisa dihitung dengan materi(uang-red). Kepuasan menolong orang lain menjadi satu pertimbangan yang sangat bernilai.

Aku coba menempatkan diriku pada posisi Pak Tjahyono. Bagaimana rasanya harus meninggalkan tanggung jawab (mengajar), demi tanggung jawab yang lebih besar (merawat anak). Ah, beginikah rasanya menjadi seorang ayah. Sungguh berat rasanya, sampai-sampai terbaca jelas olehku, gurat kelelahan pada wajah Pak Tjahyono. Sudah sanggupkah aku meminggul beban yang sangat berat namun mulia ini? Mungkin seperti ini jugalah ayahku dulu. Meski harus bekerja Senin-Jumat, masih menyempatkan untuk mendidik anak-anaknya hingga salah-satunya menjadi seperti aku ini. Meskipun aku sadar, aku belum bisa memberi banyak, tapi aku usahakan yang terbaik.

Demi lebih merasakan lagi bagaimana rasanya menanggung beban orang lain demi kemuliaan di dunia, aku memilih untuk meninggalkan kuliahku. Ampuni aku Yaa Allah, jika salah keputusanku. Aku hanya ingin menjadi manusia terbaik yang memberikan manfaat terbanyak bagi orang di sekitanya.

-Kamis, 15 Oktober 2009 @kampus MBA-ITB sambil mempersiapkan bahan mengajar-

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

October 15, 2009 at 9:20 pm

Posted in Stuff

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: