#bijakfputranto

@bijakfputranto

Ramadhan:The Series

with 5 comments

ramadhan-uy-1 Syawal 1430 H-

Sesuatu baru terasa begitu bernilai, ketika orang yang memilikinya telah kehilangan sesuatu tersebut. Itulah yang aku rasakan malam ini. Berlalu sudah bulan yang penuh berkah dengan segala keutamaan yang berada di dalamnya, Ramadhan. Dan aku sangat merasa kehilangan atasnya. Ada penyesalan karena merasa belum optimal dalam ibadah. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Meskipun demikian, aku tetap bersyukur karena dengan segala kepadatan aktivitas, aku masih bisa berkumpul dengan keluarga tercinta di hari yang fitri.

Ramadhan, kuanggap bagai serial televisi yang terdiri dari beberapa session. Masing-masing session menyuguhkan cerita yang berbeda, dan tiap-tiap darinya memiliki klimaksnya sendiri. Bedanya, sebagai seorang pemain di serial TV tersebut, kita tidak tahu apakah akan diajak bermain kembali di session berikutnya oleh produser sekaligus sutradara, yaitu Allah SWT. Ya, kita memang tidak akan pernah tahu apakah akan bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.

Kucoba renungi hari demi hari selama Ramadhan, tahun ini, maupun tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya enam session terakhir, benar-benar menggoreskan kesan tak terlupakan, karena masing-masing meninggalkan cerita uniknya.

Ramadhan 1425 H (2004)-Session I

Inilah Ramadhan pertamaku di Bandung, jauh dari keluarga. Sebagai pemain baru, tentu merasakan kecanggungan. Sahur bersama teman-teman asrama putra. Berbukapun dengan menu seadanya. Inilah Ramadhan terakhir bagi penghuni asrama putra, karena setelah tahun ini, tiada lagi gedung asrama yang nyaman, bersahaja, dan sedikit angker. Kurang lebih satu semester setelah Ramadhan, gedung asrama dialih fungsikan menjadi kantor dan laboratorium.

Ramadhan 1426 H (2005)-Session II

Masa-masa ini adalah dimana jiwa entrepreneurshipku mulai tumbuh. Beberapa training dan seminar tentang kewirausahaan telah aku ikuti. Dampaknya, aku mulai memberanikan diri membuka bisnis pertamaku: Sop Buah dengan brand “Fruit Soup For The Soul”. Waktu itu, sop buah belum sepopuler saat ini, setidaknya di Bandung. Meskipun hampir mirip es buah, kuah susu adalah yang menjadi ciri khas dari sop buah. Di tempat kosku yang baru, aku bekerja sama dengan ibu kos dan anaknya untuk menjalankan bisnis ini. Hasilnya, aku bisa mudik dan zakat dengan uangku sendiri.

Ramadhan 1427 H (2006)-Session III

Merasa telah mampu beradaptasi dengan suasana Ramadhan mandiri, aku mencoba menerima amanah menjadi Ketua Ramadhan Di Kampus. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas semaraknya Ramadhan, khususnya di kampus dan lingkungan sekitar, aku berusaha semaksimal mungkin mencurahkan hampir seluruh waktuku. Bahkan, beberapa kuliah mulai sering kutinggalkan (yang ini jangan dicontoh ya :p). Tapi setidaknya aku merasa cukup puas karena telah bisa ikut berkontribusi dalam da’wah Islam khususnya menyemarakkan Ramadhan dengan ta’jil tiap sore di Masjid Syamsul Ulum-masjid kampus-red, seminar, bedah buku, bakti sosial, dan bazar buku.

Ramadhan 1428 H (2007)-Session IV

Inilah Ramadhan saat aku memegang amanah sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMIF). Sebagai orang yang termasuk angkatan tua di kampus-tahun ketiga-, aku sering diminta mengisi kajian sore menjelang berbuka, atau sekedar menjadi tamu dalam acara buka bersama. Inilah puncak-puncaknya aku sering bolos kuliah, sampai-sampai aku lupa kalau masih mengemban amanah orang tua sebagai mahasiswa :D. Kesibukan yang luar biasa, memaksa aku untuk bisa menjadi lebih kuat. Berkahnya, aku banyak merasakan hidangan berbuka yang lumayan mewah dengan gratis ^_^

Ramadhan 1429 H (2008)-Session V

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, tuntutan orang tua untuk bisa segera lulus membuat aku stress dan susah menikmati Ramadhan. Bagaimana tidak? Disamping harus menyelesaikan Tugas Akhir (TA) dalam waktu yang sangat singkat, aku juga harus menjalankan magang di Telkomsel Jakarta. Alhasil, hampir tiap minggu aku bolak-balik Jakarta-Bandung. Tapi memang berkah bulan Ramadhan, aku bisa menyelesaikan sidang TA dengan nilai yang sangat memuaskan (A). Tempaan-tempaan yang berat di tahun-tahun sebelumnyalah yang membuat aku semakin tegar di tahun ini, dan akhirnya bisa menjadi ST12, lulus sidang TA menjadi ST(Sarjana Teknik) tepat pukul 12 siang. ^_^

Ramadhan 1430 H (2009)-Session VI

Kalau di beberapa session sebelumnya, aku menjalani Ramadhan dengan status sebagai mahasiswa S1, inilah tahun dimana aku menyandang status baru: mahasiswa S2. Yang membuat Ramadhan tahun ini begitu menantang adalah, begitu padatnya jadwal kuliah (14 sks) ditambah ketatnya jadwal mengajar (16 sks). Meskipun demikian, berkat latihan bertahap di Ramadhan sebelumnya, aku menjadi tidak merasa berat untuk menjalankannya. Yang paling menggembirakan, di Ramadhan kali inilah aku paling banyak ber-I’tikaf. Alhamdulillah Yaa Rabb.

Pekikan takbir menemani malam ini. Sambil menyelesaikan tulisan ini, aku hanya bisa berdoa, semoga Allah masih mempertemukan aku dengan Ramadhan session berikutnya di tahun depan, dengan tantangannya yang berbeda. Amiin….

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

September 19, 2009 at 9:33 pm

Posted in Daily

Tagged with ,

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Luarr biasa,anak muda yg kreatif dan tau amanat yg diembannya dan yg pasti mengerti tanggung jawab pada ortu krn kebanggaan ortu adalah kala mlihat anak2nya mapu menyelesaikan kuliah dgn tepat waktu sekaligus jadi anak sholeh yg bisa menjadi ladang amal bagi ortunya.

    andi

    September 29, 2009 at 10:02 am

    • ^terima kasih telah berkunjung tante…
      alhamdulillah,saya masih diberi kemampuan untuk mengevaluasi kekurangan diri dan meningkatkan kualitas di kemudian hari…
      masih banyak yang ingin dan harus saya tingkatkan…
      semoga ini menjadi satu catatan amal sebagai pemberat timbangan di hari perhitungan…

      bijakfajar

      September 30, 2009 at 8:47 am

    • terima kasih telah berkunjung tante…
      alhamdulillah,saya masih diberi kemampuan untuk mengevaluasi kekurangan diri dan meningkatkan kualitas di kemudian hari…
      masih banyak yang ingin dan harus saya tingkatkan…
      semoga ini menjadi satu catatan amal sebagai pemberat timbangan di hari perhitungan…

      bijakfajar

      September 30, 2009 at 8:52 am

  2. beruntunglah orang2 yg mau mengevaluasi dirinya,krn dgn evaluasi kita akan mampu melihat kekurangan & kelebihan yg kita miliki.Dengan evaluasi kekurangan2 itu bisa dirubah kepada hal2 yg lebih positif.Orang tua anda sangat beruntung memiliki anak yg setiap sesion dlm hidupnya slalu berusaha untuk menjadi manusia yg berguna bagi umat “SELAMAT SMOGA ALLOH SLALU MELINDUNGIMU DAN SUKSES SLALU”

    andi

    September 30, 2009 at 9:41 am

  3. Subhanallah…..
    sungguh evaluasi diri yang patut ditiru….

    titiek amar

    February 12, 2010 at 12:47 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: