#bijakfputranto

@bijakfputranto

Hari Pertama Masuk Sekolah

with 12 comments

Pengalaman pertama menjalani peran sebagai murid sekolah bisnis dan manajemen ITB memberikan kesan mendalam tak terlupakan. Sistem, lingkungan, metode, dan perangkat yang semuanya baru, memaksa untuk senantiasa beradaptasi cepat. Pada kesempatan ini, ijinkan aku membagikannya padamu kawan.
Sejak awal, selama masa orientasi, sudah ditegaskan bahwa kedisiplinan harus dijunjung tinggi. Tidak ada toleransi keterlambatan pada setiap sesi perkuliahan. Ketika dentang jam sudah menunjukkan waktu perkuliahan dimulai-sesuai jadwal-, maka yang sudah berada lebih dulu di dalam ruang kelas, berhak mengunci pintu dari dalam. Artinya, siapapun-mahasiswa atau dosen-yang datang setelahnya, tidak berhak untuk masuk mengikuti sesi kuliah saat itu.
Hal lainnya yang kurasakan berbeda adalah penjadwalan kuliah. Kalau dulu ketika masa undergraduate jadwal untuk satu mata kuliah dipecah menjadi beberapa hari dalam satu minggu. Kini, satu mata kuliah akan dijalankan pada satu hari, yang dibagi menjadi beberapa sesi. Semisal mata kuliah bernilai 3 SKS, maka satu hari dibagi menjadi 3 sesi. Sedangkan untuk mata kuliah bernilai 2 SKS, satu hari dibagi menjadi 2 sesi. Sedangkan 1 sesi berdurasi selama 1,5 jam, dan ada jeda antar sesi yang bisa digunakan untuk rehat.
Tidakkah ada kejenuhan jika satu mata kuliah dirapel dalam satu hari? Inilah salah satu perbedaan yang kuanggap sebagai satu kelebihan. Yaitu penggunaan case study untuk menyampaikan materi. Jadi jika satu mata kuliah dibagi menjadi 3 sesi dalam 1 hari, maka pembagiannya akan seperti ini:

  • sesi pertama: dosen masuk kelas menjelaskan materi
  • sesi kedua: diskusi kelompok-yang disebut dengan sindikat– di ruangan masing-masing. 1 sindikat mendapat 1 ruangan .
  • sesi ketiga: presentasi hasil diskusi sindikat dan diskusi kelas.

Awalnya,metode seperti ini diterapkan di fakultas hukum Harvard University untuk mensimulasikan kasus peradilan.

picture-076

Pertemuan pertama tiap mata kuliah, mahasiswa akan diberi satu map besar berisi lebih dari 10 kasus nyata dalam dunia bisnis,berbahasa Inggris, yang langsung dibeli secara original dari Harvard Business School. Tapi apalah arti sebuah merk. Toh, setahuku belum ada satu CEO perusahaan besar dunia yang lulusan Harvard Business School. Kalau yang DO sih ada. ^_^.

Satu case study minimal terdiri dari 10 halaman A4. Dan harus dikuasai setiap harinya, karena selalu ada presentasi dan diskusi di tiap kali pertemuan. Tidak salah jika partisipasi mendapat peringkat tertinggi dalam hal prosentase nilai total. Lebih tinggi dibandingkan nilai UTS, UAS, dan laporan tertulis. Ah,inilah hari-hariku ke depan.

Dengan penggunaan studi kasus yang real, diharapkan pemahaman mahasiswa akan lebih mudah dibentuk, dibandingkan dengan sekedar membaca teori dari buku-buku yang saking tebalnya bisa dijadikan bantal. Itulah bagian dari masa lalu.

Maka kupikir, ada baiknya metode ini bisa diterapkan di program studi lain, bahkan untuk level undergraduate. Meskipun, sebaik-baik tempat mencari ilmu adalah dengan langsung menceburkan diri, setidaknya pendekatan seperti ini bisa lebih mendekatkan gambaran tentang bagaimana tercebur dengan baik dan benar. Harapannya, sistem pendidikan di Indonesia-secara umum- bisa membaik.

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

February 3, 2009 at 7:40 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

12 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. wuih pertama neh….hmmmmm….say hello aja dulu lah….

    fuji

    February 3, 2009 at 10:17 am

  2. oooooo……ternyata kita masuk sekolah toh yah???? ta kirain uda university…..hehe (berarti masih kepala sekolah donk belum dekan????….hihihi…canda….)

    pertama masuk gw kirain sekolah debus neh….tp ternyata emang ada manfaatnya jg dan banyak…setidaknya tinggal ngambil sertifikat debusnya aja iya ga jak???

    fuji

    February 3, 2009 at 10:27 am

  3. klo lulusan harvard status DO sih berarti residunya tuh….

    fuji

    February 3, 2009 at 10:45 am

  4. there’s always the first time jak!!
    and we did it normaly
    yu huuu..

    pipit

    February 3, 2009 at 12:24 pm

  5. jangan lupa dipraktekin Kang Bijak.
    huehueheue

    Shiddieq

    February 4, 2009 at 2:30 pm

  6. @fuji
    yoi bro…
    @pipit
    yup..
    @shiddieq
    insya Allah kang…

    bijakfajar

    February 5, 2009 at 7:32 am

  7. “belum ada satu CEO perusahaan besar dunia yang lulusan Harvard Business School”
    Alhamdulillah.. untung saya tidak lulus dari Harvard Business School. 🙂

    putrichairina

    February 5, 2009 at 7:57 am

  8. keren… 😀

    asri

    February 11, 2009 at 2:53 pm

  9. masbieee…..
    long time gak ketemu..
    hahahahahaha…

    Anggi Sipahutar

    February 20, 2009 at 10:52 pm

  10. @putrichairina
    berarti masih ada kesempatan buat jadi CEO..^_^

    @asri
    ^_^

    @Anggi Sipahutar
    angsoooopphhhhh….
    :p

    bijakfajar

    February 21, 2009 at 1:45 pm

  11. wah,, kayaknya kuliahnya seru tuh k..
    g kayak disini,, qt nunguin dosen sampe berakar, lumutan,, eh gak datang..
    ada juga c dosen yang ontime.
    doakan saia cepet lulus ya k.. =p

    hapihappy

    February 21, 2009 at 5:44 pm

  12. wah…si kakak satu nih hebat dah…

    salut bgt….

    top markotop…

    gud marsogud….

    fiqi

    March 10, 2009 at 10:28 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: