#bijakfputranto

@bijakfputranto

Bagaskara Manjer Kawuryan

with 11 comments

presentation1Senin pagi yang tidak biasa di sebuah rumah di bilangan Sawangan, Depok. Bagas, bocah berusia 3 tahun merengek untuk ikut ke masjid bersama ayahnya untuk shalat Isya nanti malam. Ayahnya yang tengah bersiap-siap berangkat ke kantor merasa bingung, ada apa dengan putra satu-satunya itu. Sang bunda hanya memberi keterangan singkat, bahwa Bagas iri melihat teman-teman seumurannya, di Play Group Permata Hati, yang sudah berani pergi ke masjid. Bagi seorang anak kecil, wajar saja jika ingin mendapatkan apa yang dimiliki oleh temannya. Tapi apa yang diinginkan Bagas bukan suatu yang mudah dipenuhi.
Bagaskara Manjer Kawuryan nama lengkapnya. Lahir dari rahim seorang wanita yang sebelumnya telah dua kali mengalami keguguran. Konon, sang ayah terinspirasi nama seorang tokoh misterius di novel pentalogi Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Bagaskara Manjer Kawuryan yang berarti ‘matahari terang benderang’ di novel itu adalah nama samaran yang digunakan oleh seorang tokoh misterius yang memberikan petunjuk pada Gajah Mada untuk memecahkan teka-teki yang dihadapi oleh Gajah Mada bersama sepasukan khusus pengawal keluarga kerajaan Majapahit bernama Bhayangkara.
Dulu, ia dipanggil dengan nama ‘Ryan’ yang diambil dari potongan nama belakangnya. Namun, semenjak muncul kasus pembunuhan berantai dengan terdakwa utama bernama ‘Ryan’ sekitar tiga bulan lalu di Jombang, Jawa Timur, seluruh anggota keluarga sepakat untuk mengganti nama panggilan untuknya menjadi ‘Bagas’. Keluarga itu tidak ingin, nama yang melekat padanya akan mewarisi sifat buruk dari ‘Ryan’ sang pembunuh. Meskipun awalnya tidak mudah mengganti nama yang sudah melekat erat, membalung sumsung, dan mendarah daging selama dua tahun lebih, tapi berkat usaha keras dari seluruh anggota keluarga, termasuk kakek, nenek, paman, dan bibi, juga tetangga di lingkungan sekitar rumah, Bagaskara Manjer Kawuryan saat ini sudah bisa menerima “nama-baru”nya.
Bagas tumbuh menjadi anak yang lincah bahkan cenderung hiperaktif. Kalau istilah zaman sekarang, Bagas ini ‘kagak ada matinye’. Seolah tidak memiliki urat lelah, ia selalu merepotkan ayah bundanya. Ketika disuapi, ia sering berlari-larian. Saat mandi, ia hobi melompat-lompat. Setiap ada tetangga datang berkunjung, ia selalu meminta perhatian dengan mengajak berbicara, meskipun kata yang diucapkannya belum sempurna. Kala mendengar suara lagu,ia dengan mudah mengikuti sambil bernyanyi menurut versinya sendiri. Malam hari, menjelang waktu tidur, ia merengek ingin jalan-jalan ke luar. Tapi ketika menangis, dijamin teriakannya bisa membangunkan orang-orang satu RT.
‘Kelebihan’ Bagas inilah yang membuat bingung ayahnya pagi itu. Bagaimana jika nanti ketika orang-orang sedang melaksanakan shalat Isya, Bagas berlari-larian, berjalan-jalan, menyanyi, mengobrol dengan teman-temannya, atau bahkan menangis menjerit-jerit menggemparkan masjid. Bagas terus merengek, sementara sang ayah berpikir keras bagaimana menuruti permintaannya.
Sampai akhirnya sang ayah menyerah. Bagas diijinkan untuk ikut shalat isya nanti malam, tapi dengan lima persyaratan yang harus Bagas hapal selama sehari itu, dan harus dilaksanakan ketika nanti shalat Isya. Lima syarat itu adalah: Bagas tidak boleh berlari-lari, tidak boleh berjalan-jalan, tidak boleh bernyanyi, tidak boleh mengobrol, dan tidak boleh menangis, selama shalat Isya. Sang bunda diminta untuk selalu mengingatkan Bagas lima syarat itu. Bagas harus menghapalnya sebelum ayah pulang ba’da maghrib nanti malam. Persyaratan lainnya, kalau sampai Bagas melanggar, maka Bagas tidak diijinkan lagi untuk ikut ke masjid sampai nanti tiba waktu yang tepat untuknya. Kesepakatan pun terjadi. Bagas gembira karena berhasil mendapatkan keinginannya, meskipun untuk itu ia harus memenuhi beberapa persyaratan.
Ba’da maghrib, ketika ayahnya baru memasuki rumah, Bagas langsung berlari menghampiri dengan seragam siap tempur. Baju koko putih, sarung coklat, dan peci hitam. Ayahnya tidak menyangka Bagas bisa seserius ini untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Tanpa diminta, Bagas langsung melafalkan lima syarat yang harus ia penuhi nanti di masjid, dengan suaranya yang belum sempurna dan dengan gerakan tangan yang menggemaskan “satu, ga boleh lari lari. Dua, ga boleh jalan-jalan. Tiga, ga boleh nyanyi. Empat, ga boleh ngobrol. Lima, ga boleh nangis.” Melihat tingkah Bagas, lelah yang dirasakan sang Ayah setelah bekerja seharian sekejap hilang seiring senyum yang merekah. Spontan, Bagas langsung diciumi. Bagas pun tertawa senang sambil menggelinjang kegelian dikelitiki sang ayah.
Menjelang adzan Isya, Ayah dan anak itu telah siap untuk berangkat ke masjid. sang Bunda tersenyum melihat mereka berdua yang berpakaian sama. Tak lupa, sang ayah berpesan untuk mengunci pintu sementara mereka berdua pergi ke masjid.
Sepanjang perjalanan ke masjid, Bagas diminta untuk terus melafalkan lima syarat tersebut. Sesampainya di masjid, Bagas semakin bertambah riang karena bisa menunjukkan kepada teman-temannya bahwa ia juga bisa ke masjid.
Sesudah beberapa jenak waktu shalat sunnah, iqamat pun dikumandangkan. Shalat Isyapun dimulai. Sang ayah sengaja memilih tempat di shaf pertama paling kiri, karena melihat teman-teman Bagas ada di deretan sebelah kanan. Hal ini untuk mencegah Bagas berhubungan dengan teman-temannya.
Rakaat pertama berjalan dengan tenang. Bagas masih di tempatnya mengikuti gerakan-gerakan shalat. Rakaat kedua, Bagas terlihat mulai gelisah, ditandai dengan kepalanya yang berputar-putar mencari tahu apa yang sedang dikerjakan teman-temannya. Meskipun demikian, ia masih tetap mengikuti gerakan shalat. Rakaat ketiga, Bagas mulai tidak mengikuti gerakan shalat. Sewaktu jama’ah mulai ruku’, ia tetap berdiri. Saat jama’ah sujud untuk yang kedua kali, Bagas bergeming di duduk antara dua sujudnya. Meskipun demikian, lima syarat masih dipenuhi. Tiba di rakaat keempat, Bagas melihat teman-temannya ada yang berlarian meninggalkan shaf. Beberapa masih di shafnya, namun mengobrol dengan teman di sebelahnya. Bahkan di belakang, Bagas melihat ada beberapa anak yang bermain lompat tali sambil bernyanyi-nyanyi. Di sudut, malah ada seorang anak yang entah karena apa, menangis sendirian. Tanpa diduga Bagas langsung mengeluarkan teriakannya,“KATA AYAH, GA BOLEH LARI-LARI. KATA AYAH, GA BOLEH JALAN-JALAN, KATA AYAH, GA BOLEH NYANYI. KATA AYAH, GA BOLEH NGOBROL. KATA AYAH, GA BOLEH NANGIS!!!!!”

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

December 21, 2008 at 6:53 am

11 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sederhana… tapi, ngena..
    Subhanallah… Anak kecil yang punya komitmen yang kuat sebagai output dari kemauan yang kuat…
    Mudah – mudahan jadi anak yang shaleh dan mampu mengembalikan kejayaan Islam..
    ALLAHU AKBAR !!

    selamat buat Abi-nya Bijak Fajar Putranto
    dan Umminya ….. ehm…ehm..ehm…pituwiwit… :p

    HAMMAM ABDILLAH

    December 21, 2008 at 9:58 pm

  2. hahahaha… =))

    wulida

    December 22, 2008 at 9:01 am

  3. @HAMMAM ABDILLAH
    amiin..tp bukan ane abinya πŸ˜›

    @wulida
    ^_^V

    bijakfajar

    December 22, 2008 at 4:40 pm

  4. Assalamu’alaikum..
    http://profiles.friendster.com/66061369

    Jak, yang di FS itu adik Antum??
    Namanya sama persis dengan yang diatas Bagaskara Menjer Kawuryan

    Ternyata adik kelas ane pas di SD, pas di add beliau jadi inget postingan ini

    arqomalifh

    December 31, 2008 at 1:18 am

  5. @arqomalifh
    ooo bukan koq…
    kebetulan aja namanya sama,mungkin dia juga baca Gajah Mada…

    bijakfajar

    January 1, 2009 at 10:10 am

    • alhamdulillah, telah lahir putra pertamaku dan aku beri dia nama Bagaskara Manjer Kawuryan. Saya juga terinspirasi Gajah Mada. Ternyata setelah googling banyak juga yang sudah mengambil nama tersebut πŸ™‚

      I love you my Bagas

      ivan

      February 20, 2010 at 6:39 am

  6. hehe.. iya, stelah an tanya emang bukan nama aslinya

    arqomalifh

    January 1, 2009 at 8:45 pm

  7. sederhana, tp lucu. endingnya menggelitik n kreatif banget. hehe

    emeld

    July 10, 2009 at 6:12 am

  8. ^terima kasih… πŸ™‚

    bijakfajar

    July 10, 2009 at 9:54 am

  9. Nama putraku juga hampir sama bedanya depannya ada nama lain yaitu “lawu bagaskara manjer kawuryan” dengan nama ini semoga lawu (panggilannya) menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi nusa dan bangsa dan membanggakan ke dua orang tuanya….

    anny

    May 21, 2010 at 9:24 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: