#bijakfputranto

@bijakfputranto

Cuplikan Pidato Muhammad Yunus Saat Menerima Nobel Perdamaian 2006

with one comment

Muhammad Yunus

Muhammad Yunus

Saya jadi terlibat dalam masalah kemiskinan bukan sebagai pengambil kebijakan atau peneliti. Saya terlibat karena kemiskinan ada di mana-mana di sekeliling saya, dan saya tidak bisa berpaling darinya. Tahun 1974, saya merasa sulit mengajarkan teon-teori ekonomi yang elegan di ruang-ruang kelas universitas dengan latar bencana kelaparan yang mengenaskan di Bangladesh. Mendadak saya merasakan kosongnya teori-teori ini di hadapan kelaparan dan kemiskinan yang meluluhlantakkan. Saya ingin berbuat sesuatu yang langsung untuk menolong orang-orang di sekitar saya, sekalipun satu manusia saja, untuk bisa melewati satu hari lagi dengan sedikit lebih lega. Hal ini membawa saya berhadapan dengan perjuangan kaum miskin untuk bisa mencari sejumlah kecil uang buat menopang upaya mereka mencari penghidupan. Saya terperanjat mendapati seorang perempuan desa meminjam kurang dari AS$1 dari seorang rentenir, dengan syarat bahwa si rentenir memegang hak eksklusif untuk membeli semua yang dihasilkan si perempuan itu dengan harga yang ditetapkan si rentenir. Hal ini, bagi saya, adalah cara membeli budak belian. Saya putuskan membuat daftar korban “bisnis” rentenir ini di desa yang bersebelahan dengan kampus kami.

Ketika daftar saya rampung, ada nama 42 korban yang pinjaman totalnya AS$27. Saya keluarkan AS$27 dari kocek sendiri untuk membebaskan para korban ini dari cengkeraman rentenir. Kegembiraan yang timbul di kalangan orang-orang itu oleh langkah sederhana ini membuat saya terlibat makin jauh ke dalamnya. Bila saya bisa membuat begitu banyak orang bahagia dengan uang yang begitu sedikit, mengapa tidak berbuat lebih banyak lagi?

Inilah yang berusaha saya lakukan sejak itu. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba membujuk bank yang berlokasi di kampus untuk meminjamkan uang pada kaum miskin. Tidak berhasil. Bank bilang kaum miskin tidak layak diberi kredit. Setelah semua jerih payah saya selama beberapa bulan gagal, saya menawarkan diri untuk menjadi penjamin kredit bagi kaum miskin ini. Saya terkesima oleh hasilnya. Orang-orang miskin ini membayar kembali pinjamannya, tepat waktu, selalu! Namun saya tetap menemui kendala dalam memperluas program ini lewat bank-bank yang ada. Saat itulah saya putuskan untuk menciptakan bank tersendiri bagi kaum miskin, dan tahun 1983, akhirnya saya berhasil melakukan nya. Saya beri nama Grameen Bank atau Bank Pedesaan.

Hari ini Grameen Bank memberi kredit ke hampir 7 juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen di antaranya perempuan. Grameen Bank memberi kredit bebas agunan untuk mata pencaharian, perumahan, sekolah, dan usaha mikro untuk keluarga-keluarga miskin dan menawarkan setumpuk program tabungan yang atraktif, dana pensiun, dan asuransi untuk para anggotanya. Sejak diperkenalkan tahun 1984, kredit perumahan telah dipakai untuk membangun 640.000 rumah. Kepemilikan legal rumah-rumah ini menjadi hak para perempuan itu sendiri. Kami menitikberatkan pada kaum perempuan karena kami dapati bahwa memberi pinjaman ke kaum perempuan lebih banyak manfaatnya bagi keluarga. Secara kumulatif bank telah memberi kredit sebesar sekitar AS$6 miliar. Tingkat pengembaliannya 99 persen. Secara rutin Grameen Bank membukukan laba. Secara finansial Grameen Bank mandiri dan tidak lagi menerima dana donor sejak 1995. Deposito dari dana milik Grameen Bank sendiri hari ini berjumlah 143 persen dari seluruh pinjaman berjalan. Menurut survai internal Grameen Bank 58 persen peminjam kami telah terangkat dari garis kemiskinan. Grameen Bank lahir sebagai proyek rumahan kecil-kecilan yang dijalankan dengan bantuan mahasiswa-mahasiswi saya, semuanya berasal dari daerah setempat. Tiga dari mahasiswa ini masih bersama saya di Grameen Bank sesudah bertahun-tahun ini, sebagai eksekutif puncaknya. Mereka hadir di sini hari ini untuk menerima penghargaan yang Anda berikan pada kami ini. Gagasan ini, yang bermula di Jobra, sebuah desa kecil di Bangladesh, telah menyebar ke seluruh dunia dan sekarang ada program-program mirip Grameen di hampir semua negara.

*source: email yang dikirim oleh Taradiastuti Sinta [http://tarasinta.com]

Advertisements

Written by Bijak F. Putranto

October 22, 2008 at 11:20 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Jadi inget skripsiku…

    Nindy

    November 11, 2008 at 11:26 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: