Duka Nestapa Seorang Bujang
Malang nian nasib orang yang, oleh Allah, dicabut dari hatinya keinginan untuk beramal, berbuat baik. Sebagai suatu yang saling menggantikan, jika tidak berbuat baik, maka bisa dipastikan akan berlaku negasinya, berbuat buruk. Karena tidak mungkin tindakan bersifat netral. Pasti satu diantara dua pilihan, baik atau buruk. Ibadah atau maksiat. Manfaat atau madharat.
Jika menikah adalah salah satu ranting dari pohon ibadah, maka keinginan untuk menikah adalah salah satu wujud keinginan untuk berbuat baik. Masalahnya, itulah yang akhir-akhir ini hilang dari hatiku. Bisa kukatakan bahwa ia telah hilang, karena ia pernah tersimpan di hatiku semenjak semester 4 sampai menjelang aku menyelesaikan semester 8. Ini serius. Bahwa keinginan itu sudah lama ada. Hanya saja tinggal menunggu restu orang tua yang akan ada ketika aku telah mampu menafkahi. Perkara kemampuan untuk menafkahi, ternyata masih dipandang sempit oleh sebagian besar orang, bahwa ia haruslah melewati tahap lulus kuliah kemudian bekerja. Namun sebagai anak yang berbakti dan tidak ingin dianggap durhaka pada orang tua, maka akupun berusaha tegar menjalaninya.
Anehnya, ketika saat ini satu tahap telah kulewati(baca:lulus kuliah), dan aku memiliki kesempatan untuk segera berpenghasilan(baca:mencari kerja), aku malah memilih untuk menunda itu, menempuh jalan memutar yang lebih jauh untuk sampai di tempat tujuan. Ah, kemana perginya keinginan untuk beribadah itu?
Salim A Fillah, dalam bukunya ‘Gue Never Die’, pernah menyebutkan bahwa hanya ada dua alasan seorang lelaki menunda menikah. Pertama, karena banyak maksiat. Kedua, diragukan kejantanannya. Kalau aku boleh memilih antara dua alasan itu, aku memilih untuk tidak pada kedua-duanya. Sungguh pilihan yang sulit, kawan.
Sekarang Aku hanya memiliki satu pilihan. Perbaiki amalan, kurangi kealpaan. Sungguh aku tak ingin menjadi seburuk-buruk mayat, yang ia adalah mayat seorang bujang(Al-Hadits). Tak lupa berdoa, smoga diberi ketegaran jiwa. Sampai saat itu tiba, ku akan sabar menantinya. Satu renungan dari seorang saudara:‘Rendahkan hati, tinggikan mutu’. Semoga ini juga menginspirasimu, teman. Allahu akbar!!!







wew.. dari semester 4 kak? subhanallah…
febryanti
January 26, 2009 at 6:21 am
amin..semoga ALLAH memberikan yang terbaik jak
aerapianggis
January 26, 2009 at 6:38 am
siapakah wanita yang beruntung itu jak ?!?
afwan auliyar
January 27, 2009 at 11:18 am
Jadi kapan nieh mengakhiri masa bujang?
arqomalifh
January 28, 2009 at 2:34 pm
amin…
*sepakat ma yang di atas*
asri
January 29, 2009 at 2:55 pm
sukses2…
gantungkan cita-citamu setinggi langit (halah peribahasa SD)…
aku nyonto proposalmu dong
errick
January 30, 2009 at 10:32 am
@febryanti
jadi malu ^^
@aerapianggis & asri
amiin..
@afwan auliyar
wallahua’lam…
@arqomalifh
wallahua’alam…
@errick
lagi dalam proses penyusunan neh..^_^V
bijakfajar
January 31, 2009 at 6:37 am
Makanya, Jek..
dateng.. :p
apaan coba?
HAMMAM ABDILLAH
January 31, 2009 at 3:08 pm
amin kak.. saya ikut mendoakan..
hmm..saya tunggu siapa yang beruntung bersanding bersama kak bijak ini..
btw kak, tukaran link blog ya…
arefblog
January 31, 2009 at 6:15 pm
buuujangan buujaanggan… wou wou wou bujangaan (nyanyi nggak jelas). SEMANGAT, brother !!
suryopranoto
February 1, 2009 at 1:32 am
@HAMMAM ABDILLAH

pengennya sih dateng..cuma ternyata ga bisa ijin
@arefblog
alamat blogmu apa??
@suryopranoto
thanks bro…^_^
bijakfajar
February 1, 2009 at 10:57 am
hmm…bijak.. bijak..malang benar nasib mu, kehilangan keinginan ibadah yg menyenangkan ini.. hehe..(punten pisan).menurut saya ada 2 hal penting :
sebenarnya memang tidak pernah ada batasan maslah penghasilan karena pada dasar nya manusia tidak pernah cukup, nunggu lulus, udah lulus nunggu kerja,udah kerja nunggu penghasilan tetap dan mapan, udah mapan eh,, biadadari dan niat keinginan untuk menikah(baca:ibadah) terbang entah kemana.
heheh gak lupa kan bijak(kayak petugas KUA neh saya jelasin ini heheh), syarat nikah itu mahar, calon, wali(untuk perempuan),penghulu. ga ada syarat ijazah di sana, jd kl udah ada keinginan, dan tidak ada halangan ya njalani aja..
atau…jangan2 calon nya belom ada kali yah?? whikikikikik
sitti
February 2, 2009 at 5:25 pm
^wah calon mah banyak mba’..tinggal pilih aja,cuma ga tau mreka mau sama saya atw ga…wkwkwkwkwk
mohon doanya aja mba’,biar bisa segera merealisasikan…
bijakfajar
February 3, 2009 at 6:30 am
seburuk-buruk mayat, yang ia adalah mayat seorang bujang(Al-Hadits) Sory jak hadistnya riwayat siapa???
fuji
February 5, 2009 at 5:54 pm
Jak, Menikah memang bisa menjadi ladang amal yang bisa mengantarkan kita ke Surga kalau kita bisa memanfaatkan. Tapi juga bisa menjadi ladang dosa yang akan mengantarkan kita ke neraka, kalau kita tidak dapat melaksanakan.untuk bisa menjadi ladang amal harus dapat pasangan yang cocok dan seimbang (seperti tuntunan nabi) dan masing2 harus bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya, jangan hanya minta hak. hak tidak diminta tidak apa tapi kewajiban tidak dilaksanakan jadi dosa (tidak seperti mengerjakan PR, tdk ada dosa). tapi kalau kita bisa melaksanakan, disamping akan dapat kebahagiaan juga akan dapat surga. Oke???
Jadi sebelum menikah pelaksanakan nikah harus sudah benar-benar tahu dan mau membuat ladang amal.
Nya' loo
February 11, 2009 at 4:21 pm
Jak, di ‘jalan cinta para pejuang’, halaman 122
shiddieq
February 17, 2009 at 2:07 am
waaaa….
good luck jak!
tika_girly
February 20, 2009 at 1:31 pm