Jagal Amatir
Pengalaman pertama merupakan perhiasan yang sangat berharga. Umumnya jauh lebih bernilai daripada pengalaman kedua, ketiga, atau seterusnya. Ambillah contoh, ‘malam pertama’, yang merupakan momen istimewa dimana seseorang memulai kehidupan barunya setelah memasuki jenjang pernikahan. Pernahkah Kau mendengar keistimewaan malam kedua, kesepuluh, keseratus, atau bahkan keseribu dari sebuah kehidupan pernikahan?
Maka itu, ijinkan Aku berbagi pengalaman pertama, saat Aku menjadi perantara dicabutnya nyawa seekor domba. Pagi itu, 8 Desember 2008, bertepatan dengan hari Idul Adha 1429H. Setelah empat tahun lamanya Aku memendam gejolak itu, akhirnya tiba juga saatnya. Menyembelih sendiri domba itu, sebagai penyempurna ibadah qurbanku. Terdata sebagai domba dengan nomor absen 57, ajalnya tiba jauh lebih cepat dari yang dibayangkannya.
Maka dengan bimbingan seorang Abah Shodiq, seorang jagal profesional yang sudah malang melintang di dunia ‘pembantaian’, Aku melaksanakan eksekusi itu. Tantangan dari pengalaman pertama ini adalah, bahwa pisau tidak boleh sedikitpun lepas dari saluran nafas. Karena kalau itu terjadi, sesuai hukumnya, maka hewan tersebut menjadi haram untuk dimakan. Hal inilah yang sering menjadi pertimbangan bagi seorang ‘anak baru’.

Alhamdulillah, prosesi itu berjalan lancar. Ketakutan yang membayang sebelumnya ternyata tidak terjadi. Semoga Allah menerima amal ini. Dan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dari ritual tahunan ini bisa menyebar sempurna. Menghadirkan keadilan sosial bagi sesama. Amiin.





